Di balik keindahan Kawah Ijen yang memukau wisatawan dari seluruh dunia, tersimpan kisah perjuangan para penambang belerang yang telah mengabdikan hidupnya di tepi kawah selama puluhan tahun. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menghidupi keluarga dengan memikul belerang di pundak mereka.
Setiap hari, ratusan penambang mendaki jalur terjal Kawah Ijen mulai dini hari. Mereka turun ke dasar kawah yang dipenuhi gas belerang beracun, memotong dan mengumpulkan belerang beku yang mengalir dari pipa-pipa yang dipasang untuk mengarahkan aliran belerang cair.
Dalam sekali angkut, seorang penambang bisa membawa 70 hingga 90 kilogram belerang di keranjang bambu yang digantung di bahu mereka. Berat beban ini setara dengan berat badan orang dewasa penuh, dan mereka harus membawanya mendaki jalur curam sejauh 3 kilometer.
Untuk setiap kilogram belerang yang berhasil dibawa turun, penambang mendapat upah sekitar Rp 900 hingga Rp 1.200. Dengan dua kali angkut per hari membawa sekitar 160 kg belerang, pendapatan harian mereka sekitar Rp 150.000 hingga Rp 190.000. Jumlah yang sangat kecil mengingat risiko kesehatan yang mereka tanggung setiap harinya.
Paparan gas belerang dioksida (SO2) secara terus-menerus menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius. Banyak penambang senior yang mengalami gangguan pernapasan kronis, kerusakan gigi akibat asam, dan penuaan dini. Rata-rata usia produktif penambang Kawah Ijen hanya hingga 40-50 tahun.
Meski penuh perjuangan, profesi penambang belerang telah menjadi warisan budaya turun-temurun di desa-desa sekitar Kawah Ijen. Ada solidaritas dan kebersamaan yang kuat di antara para penambang. Mereka saling membantu, berbagi beban, dan menjaga satu sama lain dari bahaya gas beracun.
Kini, dengan meningkatnya pariwisata, sebagian penambang juga menambah penghasilan sebagai porter atau pemandu wisatawan. Ini memberikan harapan akan kehidupan yang lebih baik tanpa harus sepenuhnya meninggalkan identitas mereka sebagai penambang Kawah Ijen.
Para penambang Kawah Ijen adalah bagian tak terpisahkan dari kisah Ijen. Kehadiran wisatawan yang penuh rasa hormat dan kepedulian adalah cara terbaik untuk menghargai perjuangan mereka.